Selasa, 27 April 2010

HATI DAN MASALAH

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi
datanglah seorang pemuda yang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu memang
tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua
masalahnya. Pak tua yang bijak hanya mendengarkannya secara
seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburnya garam itu ke
dalam gelas dan diaduknya perlahan. “Coba minum air ini dan
bagaimana rasanya..”, ujar pak tua itu. “Pahit. Pahit sekali”
jawab sang tamu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya untuk
berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah
mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak tua lalu menaburkan
segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu
dibuatlah gelombang mengaduk - aduk dan terciptalah riak air
mengusik ketenangan telaga itu. “ Coba ambil air dari telaga ini
dan minumlah”. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, pak tua
berkata lagi “bagaimana rasanya?” “Segar” Sahut tamunya. “
Apakah kamu merasakan garam dalam air itu?” Tanya pak tua
lagi. “Tidak” jawab si anak muda. Dengan bijak pak tua menepuk
– nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk di
samping telaga. “Anak muda dengarlah. Pahitnya kehidupan
adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap
sama tapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari
wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari
perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan
tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan
dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu
lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah
hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
Pak tua itu lalu memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu
menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas,
buatlah hatimu laksana telaga yang mampu meredam semua
kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan
kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari
ini. Pak tua, si orang bijak itu kembali menyimpan segenggam
garam untuk anak muda yang lain yang sering datang kepadanya
membawa keresahan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar