Minggu, 25 April 2010

RASA SEBUAH KETULUSAN

Seorang teman karib menghampiri meja kerja kita, danmemungut sebatang pensil yang patah. Pintanya,” Boleh aku pinjam ini?” kita yang sibuk hanya menengok sekelebat dan berkata, “ambil saja”. Setelah itu kita lupa akan kejadian itu selamanya. Padahal bagi teman kita, pensil patah itu amat berharga demi pengerjaan tugasnya.

Tahukah kita bagaimana “rasa” sebuah ketulusan?? Setiap dari kita pasti pernah memberikan sesuatu dengan setulus murni. Namun, tidak banyak yang bisa memahaminya. Karena ketulusan bukanlah rasa, apalagi untuk dirasa – rasakan. Ketulusan adalah rasa yang tak terasa, sebagaiman kita menyilahkan teman dekat kita mengambil pensil patah kita. Tiada setitik pun keberatan. Tiada setitik pun permintaan terima kasih. Tiada setitik pun rasa berjasa. Semuanya lenyap dalam ketulusan. Sayangnya tidak mudah bagi kita untuk memandang dunia ini seperti pensil patah itu. Sehingga selalu ada rasa keberatan atau berjasa saat kita saling berbagi. Sayangnya tidak mudah juga untuk bersibuk – sibuk pada keadaan diri sendiri, sehingga pensil patah pun tampak bagai pena emas.
Jangan ingat – ingat perbuatan baik kita. Kebaikan yang kita letakkan dalam ingatan
bagaikan debu yang berada di atas sebuah batu yang terguyur hujan lebat, bersih tak tersisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar